Rabu, 11 April 2012

Sejarah Wayang di Indonesia


Sejarah Wayang

Menguraikan penjelasan tentang kronologi sejarah wayang pada umumnya dan sejarah Wayang Menak Sasak khususnya, dimaksudkan untuk membantu memberikan gambaran umum tentang perubahan fungsi wayang dalam masyarakat Sasak. Kronologi historis yang dapat disajikan di sini bersifat diakronik (sejarah urutan peristiwa) dan dengan mengandalkan data-data sekunder, semisal penuturan lisan beberapa pengamat budaya di Lombok dan sumber-sumber data tertulis dari para pengkaji wayang.

Sekedar catatan, sumber data mengenai sejarah Wayang Menak Sasak dari penuturan lisan dan tulisan babad ini lebih banyak yang dapat dijumpai bersifat spekulasi. Karenanya, terkadang data lisan yang diberikan nara sumber lebih tampak sebagai suatu dongengan daripada sebuah fakta sejarah. Meskipun demikian, keberadaan dongeng sebagai cara menuturkan peristiwa masa lalu, bukan sesuatu yang mesti diabaikan. Kemauan untuk memungut dongeng sebagai bahan data bukan pertama-tama berangkat dari kehendak untuk mendapatkan validitas fakta, sebab di dalam dongeng validitas fakta diragukan. Memungut dongeng sebagai data lebih dikarenakan oleh kenyataan bahwa mendongeng adalah cara masyarakat –khususnya yang belum mapan dalam tradisi tulis— mengkonstruksi realitas masa lalu. Karena itu, meski data dari sumber lisan yang bersifat spekulasi (dongengan) ini diragukan kebenarannya, paling tidak penuturan itu telah sedikit memberi satu peluang untuk mengetahui bahwa sebuah peristiwa pernah terjadi pada masa itu.

Sejarah dan perkembangan wayang kulit

Asal-usul wayang kulit di Indonesia hingga kini masih diperdebatkan oleh para ahli. Belum ada kesepakatan tentang apakah Wayang Kulit merupakan kesenian asli Indonesia, dari India atau dari negara lain. Kerancuan dalam menentukan asal usul wayang ini juga disebabkan perbedaan konsep tentang apa yang dimaksud dengan “asal usul”.

Meskipun asal usul wayang belum dapat ditentukan dengan pasti, penulis akan mencoba menguraikannya berdasarkan sumber data pustaka. Catatan tertua yang menyatakan kehadiran pertunjukan yang disebut “wayang” di Jawa Tengah berasal dari tahun 907 A.D. Sebuah prasasti batu yang dikeluarkan oleh Raja Balitung menyebut pertunjukan wayang sebagaimawayang. Hal itu tak dapat dibuktikan apakah yang dimaksud mawayang ini sungguh-sungguh sebuah pertunjukan wayang sebagaimana yang dikenal sekarang atau bukan.

Selain itu ada pendapat yang mengemukakan bahwa pertunjukan wayang pada awalnya diperuntukkan sebagai sarana menyembah roh-roh leluhur. Wayang juga dijadikan sebagai alat penyebaran agama Hindu. Ketika agama Islam datang yang disebar luaskan oleh para Wali yang tergabung dalam kelompok Wali Songo, wayang dimanfaatkan sebagai media penyebaran agama Islam, khususnya kepada masyarakat Jawa. Mereka yang menggemari wayang, dipersilahkan menonton dan masuk Islam. Ini membuktikan bahwa pada masanya, wayang merupakan media populer yang efektif sebagai media hiburan, pembawa berita atau informasi.

Sementara di lingkungan budaya Bali, pertunjukan wayang kulit diperkirakan sudah ada sejak sekitar abad ke IX. Dalam prasasti Bebetin yang berangka tahun Çaka 818 (896 M), dari zaman pemerintahan raja Ugrasena di Bali, ditemukan sejumlah istilah seni pertunjukan yang diyakini berarti wayang atau pertunjukan wayang. Sejak masa lampau, pertunjukan wayang kulit menjadi salah satu media pendidikan informal bagi warga masyarakat. Pertunjukan wayang kulit yang memadukan berbagai unsur seni rupa, sastra, gerak dan suara, dalam pementasannya tidak saja menampilkan lakon-lakon literer yang diambil dari karya-karya sastra klasik terutama Mahabarata dan Ramayana, kesenian ini juga menyajikan petuah-petuah mengenai nilai-nilai moral, spiritual dan sosial. Dari situ masyarakat yang buta huruf akan memperoleh ajaran-ajaran tatwa, yadnya, etika dan lain-lain. Oleh masyarakat penonton, ajaran-ajaran dalam pementasan wayang ini dijadikan pedoman dan tuntunan bagi kehidupan mereka sehari-hari.

Claire Holt, Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia, Terjemahan R. M. Soedarsono, MSPI Bandung, 2000. p. 166.


Jangan Lupa di Like ya Gan....!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar